Bulan Januari 2004, saya mulai memikirkan bagaimana seandainya tahun 2006 saya mulai memasuki ruang politik dengan sasaran menjadi calon anggota legislatif provinsi.
Bulan Januari 2006, saya memutuskan akan terjun ke"politik praktis" dalam artian mempelajari tawaran beberapa menjadi pengurus partai politik "baru" yang mulai marak di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.
Ada 3 alasan utama saya menyatakan kesiapan memasuki ranah perpolitikan di NKRI:
Pertama, pendapat beberapa teman yang "ROHANI"mengatakan bahwa politik itu KOTOR. Alasan pendapat ini adalah kalau mau menang dalam politik maka cara apapun harus dilakukan walaupun tidak baik dan tidak benar. Bukti yang dipaparkan adalah "politik uang" dan "kampanye hitam".
Dalam bagian ini, saya berpendapat:"politik uang" dan "kampanye hitam" tidak hanya terjadi pada partai politik sesungguhnya, tetapi dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Bersih atau kotor, saya percaya tergantung pada oknum manusia. Karena teman saya yang "ROHANI" tersebut, walau tidak jadi anggota partai politik, melakukan politik uang dan kampanye hitam saat akan menduduki jabatan "kerohanian". Bagi saya, politik ini seperti api, kalau dinyalakan secara benar dan baik, akan sangat bermanfaat. Tetapi jika salah dan tidak baik, maka musibah yang terjadi.
Kedua, pendapat seorang wartawati(lokal), DPR seharusnya dibubarkan. Alasannya, DPR hanya tempat kumpulan orang-orang bermasalah. Buktinya hampir semua pemberitaan media menunjukan kebobrokan oknum-oknum anggota DPR.
Dalam bagian ini, saya tidak percaya. Saya perhatikan dalam beberapa kegiatan pemilu(kepala daerah, pilpres dan pemilu legislatif), justru peran sebagian masyarakat sangat besar dalam menciptakan "kebobrokan" di lingkungan DPR, DPRD. Buktinya, saya menyaksikan dan mengalami sendiri, beberapa oknum masyarakat mendatangi calon-calon anggota legislatif menyampaikan dukungan dengan "imbalan". Bahkan ada yang berkata, kalau tidak ada tanda mata maka tidak ada dukungan. Terhadap wartawati yang memberikan pendapatnya, saya sampaikan pertanyaan: adakah koreksi media terhadap calon legislatif sebelum pemilu maupun panduan pemilihan secara intens? Menurut saya, pemberitaan tidak berimbang. Bukan karena saya caleg, karena saat kami bertanya jawab, saya belum jadi anggota parpol, apalagi caleg.
Ketiga, pendapat saya, politik itu penting dan bermanfaat. Asal dilakukan oleh orang yang cukup baik dengan cara yang benar. Tokoh-tokoh penting dalam agama-agama adalah juga pemimpin politik yang berhasil dan di segani serta terkenal kebaikannya.
Saya tidak mengatakan bahwa saya orang baik, tapi saya yakin bahwa politik adalah pelajaran yang memiliki sisi baik. Saya percaya bahwa TUHAN yang saya imani dapat menolong saya apapun hasilnya pada pemilu legislatif 9 April 2009.
Wednesday, December 24, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment